23 Juni 2012

Coriolanus (2011)

He that will give good words to thee will flatter beneath abhorring. What would you have, you curs that like nor peace nor war? The one affrights you, the other makes you proud. He that trusts to you where he should find you lions, finds you hares; where foxes, geese. Who deserves greatness, deserves your hate (Caius Martius Coriolanus).


Mungkin bagi kalian petikan di atas asing buat kalian. Tentu saja, karena Caius Martius merupakan tokoh yang berasal dari drama berjudul "Coriolanus" karya William Shakespeare. Di tahun 2011, kisah itu diangkat ke dalam sebuah film yang berjudul Coriolanus. Film ini memberikan setuhan modern untuk sebuah drama klasik yang ditulis di tahun 1600an awal.

Film ini dibuka dengan adegan demonstrasi dan peperangan yang melanda Kota Roma, penduduk Roma kelaparan, selain itu Kota Roma sedang diserang oleh musuh yaitu orang-orang Valscian. Valscian dipimpin oleh seorang bernama Tullus Aufidius, beruntung Roma memiliki seorang pejuang yang menjadi tumpuan untuk bertahan dari serangan Aufidius, yaitu Caius Martius.

Caius Martius merupakan sosok yang menjadi inspirasi bagi penduduk Kota Roma, ia dielu-elukan sebagai pahlawan Kota Roma, ditambah kali ini dia berhasil kembali mengusir Tullus Aufidius. Di medan perang, Martius menunjukan bahwa ia memang seseorang yang berani, tidak takut apapun dan sangat berjiwa patriotis, ia menjadi inspirator dan motivator untuk kemenangan pasukan Roma. 

Peperangan itu menjadi yang terakhir buat Caius Martius. selain itu, ia mendapatkan gelar dari masyarakat Roma, yaitu "Coriolanus", selain itu ia juga diangkat menjadi ketua dewan pemerintahan di kota Roma. Hadiah tersebut ternyata membuat beberapa politikus cemburu, dan berusaha menfitnah Caius Martius sebagai seseorang yang kejam, tidak ramah dan keras.

Fitnah tersebut ternyata berhasil, Caius Martius menjadi sosok yang dibenci oleh penduduk kota Roma, bahkan akhirnya ia di usir dari kota tersebut. Seorang pahlawan yang selalu dipuja akhirnya menjadi seorang yang terbuang karena fitnah yang disebarkan oleh politikus Kota Roma.

Sakit hati, kecewa dan merasa tidak dihargai. Caius Martius akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan musuh abadi Kota Roma, Tullus Aufidius. Caius Martius berhasil membalas dendam dengan menyerang Kota Roma, kota yang dulunya memuja dia sebagai pahlawan!

Semangat dari film ini adalah kepahlawanan dan patriotisme. Hal itu terlihat Sosok Caius Martius digambarkan sebagai sosok yang meraih kebanggaan dari bekas-bekas luka yang didapatkannya dari peperangan.  Sosok ibunda Caius Martius, Volumnia menyatakan bahwa dirinya lebih bangga jika anaknya mati di medan perang dibandingkan hanya berpangku tangan. Kehidupan politik di masa romawipun sangat terlihat di film ini. Fitnah terhadap Caius Matiuspun hanya berdasarkan pidato-pidato politik oleh para politikus Roma di depan mimbar bebas di kota Roma. 


Kepahlawanan inilah yang mungkin dibutuhkan Indonesia saat ini, bagaimana sekarang ini kita membutuhkan tokoh-tokoh yang mau berjuang dan mempunyai kebanggaan tinggi atas negeri sendiri, yaitu Indonesia. Tokoh-tokoh yang mempunyai jiwa seperti itu pasti akan mengorbankan seluruh jiwa dan raganya untuk kemajuan bangsa.


Caius Martius dan Tullus Aufidius
Dua tokoh utamanya mungkin sudah sering kalian lihat, Tullus Aufidius diperankan oleh Gerard Butler, (Film 300 - King Leonidas, P.S. I Love You - Gerry, Beowulf and Grendel - Beowulf), sedangkan tokoh Caius Martius diperankan oleh Ralph Fiennes (Harry Potter - Lord Voldemort, Clash of The Titans - Hades).  Mereka memerankan peran dengan baik dan berhasil.

Jika berbicara soal penghargaan, Film ini, sudah memenangi beberapa penghargaan. Diantaranya adalah Austin Film Critics Associantion, British Independent Film Awards, Central Ohio Film Critics Association, Hollywood Film Festival, Los Angeles Film Critics Associations Awards, Palm Springs Internatonal Film Festival,  San Diego Film Critics Society Awards, San Francisco Film Critics Circle.

Film ini membawa sebuah pengalaman baru karena film ini membawa unsur-unsur teater ke dalam media film. Untuk masalah bahasa film ini adalah penggunaan  bahasa yang puitis. Mungkin kalian akan lebih sering mendengar panggilan engkau (Thee | Thou | Thy | Ye) dibandingkan dengan kamu (you).Selain itu kalian  akan masih merasakan "unsur teater" yang kental di film ini terutama dalam percakapan antara tokoh dalam film. Film ini cukup menyenangkan untuk ditonton, tetapi memang membutuhkan konsentrasi penuh untuk menontonnya. Selamat Menonton.

1 komentar:

  1. buat ane..yg paling nampol disini ya penampilan Oma Vanessa Redgrave...brillian performance dah...^^

    BalasHapus