2 Januari 2013

The Sapphires (2012)


Perbedaan hadir bukan sebagai sumber perpecahan, tetapi perbedaan ada agar kita saling mengenal dan bersatu.


Tindakan rasis merupakan penyakit yang menghinggapi kehidupan sosial masyarakat. Tindakan rasis bisa kita temukan hampir diseluruh muka bumi, baik di Benua Amerika, Eropa, Afrika, Australia, serta Asia, perbedaan warna kulit inilah yang mendorong seseorang menjadi rasis, berpikir bahwa satu warna kulit lebih baik dibandingkan warna kulit lain.

The Sapphires (2012) mengambil latar belakang kehidupan masyarakat Australia sekitar tahun 1958 - 1968. Tahun itu, kondisi Australia masih kental dengan perilaku rasis, Suku Aborigin menjadi korban tindakan rasis warga kulit putih.

Itulah yang dirasakan oleh Gail, Chintya dan Julie. Mereka diperlakukan tidak adil saat kompetisi bernyanyi, walaupun 'trio wanita aborigin' ini bernyanyi paling baik, mereka tidak menang kompetisi itu karena warna kulit mereka. Tapi setidaknya peristiwa itu menjadi berkah bagi mereka bertiga, karena bertemu dengan Dale, seorang musisi handal.

Dale menyukai suara mereka dan berusaha mengajak bekerja sama denganya. Julie teringat bahwa ia pernah melihat iklan lowongan yang mencari grup penyanyi untuk menghibur tentara sekutu di Vietnam, lewat perdebatan yang panjang, akhirnya mereka setuju untuk berangkat audisi.

Audisi dilakukan di kota Melbourne, merekapun mengajak Kay, sepupu mereka yang tinggal di Melbrourne untuk bergabung. Dengan formasi suara mereka berempat, mereka berhasil lolos audisi dan diberangkatkan ke Vietnam untuk menghibur para prajurit sekutu.

The Sapphires (2012) tergolong film drama musikal. Lagu-lagu yang dibawakan bergenre Pop, Soul dan RnB. Ide film ini berasal dari sebuah kisah nyata, kisah empat orang warga Australia bernama Laurel Robison, Lois Peeler, Beverley Briggs, dan Naomi Mayers yang berkeliling Vietnam untuk menghibur tentara sekutu.

The Original Sapphires

Isu yang dibawa oleh film ini berkaitan dengan rasis. Orang-orang di ajak untuk melihat bagaimana dampak negatif dari rasisme dalam kehidupan nyata. Rasisme sering kali membuat orang merendahkan orang lain, memiliki pola pikir membangga-banggakan kehebatan berdasarkan warna kulit. Padahal warna kulit tidak menentukan kemampuan ataupun keahlian seseorang, semua itu ditentukan dengan usaha dan perjuangan seseorang.

Tiga tokoh utama film ini berkulit hitam, sedangkan dua tokoh utamanya berkulit putih. Perbedaan ini ternyata tidak membuat hubungan mereka menjadi berantakan sebagai sebuah tim, mereka mampu untuk bekerja sama dengan baik. Bahkan diantara mereka, bisa timbul rasa cinta dan kasih sayang. Warna kulit tidak mempengaruhi mereka.

Rasisme merupakan penyakit yang harus dihapus dari setiap pikiran manusia. Menjadikan warna kulit sebagai pembeda dan pemisah merupakan sebuah paham yang buruk. "Don't judge the book by it's cover" berlaku disini, atau lebih cocok jika ditulis "Don't judge someone by his skin colour".

Film ini sangat menyenangkan untuk ditonton, sebuah film ringan dengan musik yang asik. Efek samping nonton film ini,  Mungkin bagi beberapa orang film ini akan menimbulkan keingintahuan lebih lanjut soal sejarah Australia yang berhubungan dengan kaum Aborigin. Atau bisa juga menimbulkan ketertarikan untuk mendengarkan lagu-lagu bergenre Soul. 

Selamat menonton.

26 Desember 2012

The Perks of Being a Wallflower (2012)


“We Accept The Love We Think We Deserve”

Sekolah memang biasanya menjadi tempat untuk menemukan sebuah titik balik dalam kehidupan seseorang. Masa sekolah membuka peluang kalian akan bertemu dengan cinta pertama, sahabat sejati, tindakan pengkhianatan, kekerasan, ketidakjujuran serta kompetisi dan persaingan. Hal itu memang sesuatu yang wajar terjadi. Dari hal tersebut, kalian bisa membentuk jati diri kalian.

Itulah yang dialami Charlie (Logan Lerman). Anak bungsu dari tiga bersaudara. Ia memiliki pribadi yang berbeda dengan kakaknya. Charlie merupakan pribadi tertutup, penyendiri, pemalu, jarang berbicara serta bukan seseorang yang populer dilingkungan sekolah seperti kakaknya. Hal itulah yang membuatnya kesulitan mendapatkan teman.

Satu waktu, ia dan teman-teman seangkatannya satu kelas dengan salah satu senior yang eksentrik. Charlie memberanikan diri untuk berkenal dengannya. Ia bernama Patrick (Erza Miller), Patrick membuka dirinya untuk Charlie. Ia pula yang memperkenalkan Charlie dengan Sam (Emma Watson), seorang wanita yang membuat Sam jatuh cinta. Patrick dan Sam akhirnya memperkenalkan Sam kepada ‘peer-group’ mereka. Yang bernama Wallflower.

Cerita film ini akhirnya mengalir terus diantara 3 orang tersebut, Sam, Charlie, dan Patrick. Banyak fakta yang mengejutkan yang terungkap dari 3 orang tersebut. Charlie mengalami trauma berat atas kehilangan tantenya waktu kecil karena kecelakan serta sahabat baiknya karena bunuh diri, Charlie ternyata adalah seorang penyuka sesama jenis, sedangkan Sam “dijual” bapaknya kepada koleganya pada usia 11 tahun.

Plot utama film ini sebenarnya sama dengan kebanyakan “High School Film”. Awalnya ada seorang anak baru yang tak punya teman bisa memiliki teman, kemudian dilanjutkan dengan ada konflik si anak baru itu dengan teman barunya. Anak baru dan teman barunya berpisah. Dan ditutup dengan konflik yang diselesaikan anak baru, sehingga ia bisa berteman lagi dengan temannya.

Sam, Charlie dan Patrick
Plot yang harusnya “boring” ini berhasil ditutup secara sempurna dengan cerita dari Sam, Charlie, dan Patrick. Mengapa bisa seperti itu? Mungkin dikarenakan sang sutradara dan pembuat screen play merupakan pengarang dari novel yang mengadaptasi film ini.

Apa yang ingin disampaikan pengarang novel ini tersampaikan dengan begitu indah di film ini.

Apa yang bisa dipelajar dari cerita di film ini? Buat penulis adalah jujurlah dengan perasaanmu. Jangan menjalani sebuah hubungan yang memang tidak benar-benar kau inginkan. Jika kau berani jujur dengan perasaanmu maka akan selalu ada jalan yang terbukan untuknya.

Mungkin kamu juga bisa merasakan sebuah nilai-nilai sebuah persahabatan yang dibangun. Tak peduli dia seperti apa, kita harus bisa menerima teman dan sahabat kita tanpa syarat.

Film ini sangat menyenangkan untuk ditonton dengan pasangan (atau mungkin gebetan kalian), atau dengan peer-group kalian. Sebuah film belatar tahun 90an yang dieksekusi dengan baik dan mempunyai alur cerita drama yang baik pula.

Selamat menonton!

19 Desember 2012

Arbitrage (2012)


“Semakin lama sebuah kebohongan disimpan, semakin banyak pula kebohongan yang akan dihadirkan untuk menutupinnya”


Menjadi seorang Ayah memang penuh dengan tantangan, tidak jarang seorang ayah harus mengorbankan dirinya sendiri untuk keluarga, tanpa memedulikan keselamatan dirinya sendiri. Itulah yang dilakukan oleh seorang Robert Miller (Richard Gere), seorang Ayah dua orang anak sekaligus pengusaha investasi. 

Kesalahan perhitungan yang Miller lakukan menyebabkan uang investasi pribadinya menguap. Ia terpaksa untuk meminjam uang dalam jumlah besar untuk mencegah perusahaan bangkrut. 

Untuk mengembalikan dana yang ia pinjam, ia harus bisa menjual perusahaannya. Tetapi masalah tiba-tiba datang, Miller harus segera mengembailkan uang yang ia pinjam. Ia berpacu dengan waktu untuk segera menjual perusahaannya sebelum batas akhir pengembalian uang.

Arbitrage (2012) menawarkan sebuah film yang penuh konflik, Miller tidak hanya berurusan dengan masalah keuangan di perusahaannya, ia dikisahkan memiliki masalah lain di kehidupan pribadinya. Miller berselingkuh dengan seorang artist asal Prancis, Julie. Hubungan mereka sudah sangat beranjak jauh, Selingkuhannya menuntut dirinya untuk meninggal istrinya sahnya sekarang. Miller merasa terjebak.

Di suatu malam, mereka berdua berkendara menuju luar kota, tapi ditengah perjalanan terjadi kecelakaan, Miller hanya terluka, tetapi Julie tewas. Miller melihat ini sebagai kesempatan untuk keluar dari masalah pribadinya, tetapi ia salah perhitungan.

Polisi yang ditugaskan menyelidiki kecelakaan itu menemukan fakta bahwa ada pengendara mobil bukanlah Julie, tetapi orang lain. Bukti yang dikumpulan oleh polisi mengarah kepada Milller. Ia harus berupaya mencegah agar penyelidikan ini tidak terungkap ke publik karena dikhawatirkan akan menggangu proses penjualan perusahaannya.

Miller tetaplah digambarkan sebagai manusia biasa. Setelah memiliki harta yang berlimpah serta tahta sebagai pengusaha terkenal, iapun jatuh ke perangkap wanita. Inilah yang menyebabkan ia terjebak dalam penyelidikan kepolisian dan berpotensi mengagalkan rencana penjualan perusahannya.

Ellen Miller dan Robert Miller

Dilain pihak, Sikap Miller yang ingin mencegah kebangkrutan perusahaannya patut di apresiasi, ini mengingatkan kita pada sikap ksatria seorang Pria. Ia tidak ingin para investor di perusahaannya (perusahaan Miller adalah perusahaan investasi) kehilangan uang karena kebangkrutan perusahaannya. Miller masih memikirkan para nasabahnya.

Hal ini sangat berbeda jika kita melihat apa yang ada di bumi Indonesia. Bagaimana para eks nasabah bank century yang uangnya belum kembali, serta para nasabah bakrie investment yang masih menunggu uang mereka cair. Para petinggi perusahaan itu hanya memikirkan kantung mereka sendiri, mengkhianati kepercayaan para investor yang sudah percaya dengan perusahaan mereka.

Arbitrage (2012) menghadirkan berusaha mengambarkan bagaimana seseorang memutuskan untuk memilih sebuah pilihan yang sulit. Film ini juga mengambarkan bagaimana strategi negoisasi, serta tipu muslihat memang diperlukan untuk memenangkan sesuatu.

Secara keseluruhan film ini sangat menyenangkan untuk di tonton. Pembagian porsi antara unsur drama dan thriller seimbang, hal ini yang menjadi daya pikat dari film ini untuk disaksikan.

Selamat Menonton!!

17 Desember 2012

SuperHeroes (2011)


"Jika tuhan memberikanmu kekuatan luar biasa, apa yang akan kau lakukan dengan kekuatan itu?"


Superman, Spiderman, Green Arrow, IronMan, Batman, atau Thor? Siapa yang tidak kenal dengan mereka. Ya, mereka adalah tokoh rekaan dengan kekuatan super yang bertujuan untuk membasmi kejahatan di muka bumi ini.

Tokoh superhero seperti ini biasanya memiliki banyak pengemar, bagi orang yang menyukainya suatu hal yang wajar untuknya mengoleksi berbagai macam benda yang berhubungan dengan tokoh idolanya, mulai dari baju, sepatu, action figure, poster, komik dan filmnya. Tetapi, ada pula orang-orang yang berbuat lebih dari itu.

Kekaguman seseorang terhadap tokoh superhero ternyata bisa diwujudkan dengan menjadi Reallife Super Heroes.  Itulah yang berusaha diangkat oleh pembuat film dokumenter ini (HBO), bagaimana sosok-sosok pahlawan super yang hidup di dunia nyata.

Reallife Superheroes ini nyata. Mereka berdandan layaknya tokoh superheroes yang ada di televisi dan komik. Ada yang memutuskan menggunakan kostum untuk menutupi identitasnya, tetapi ada pula yang sengaja membiarkan wajahnya terbuka sehingga orang mengenal dirinya.

Mungkin sebagian besar orang melihat perbuatan mereka adalah sesuatu yang bodoh, aneh dan ganjil. Tetapi bagi mereka sendiri, tindakan ini merupakan sebuah bentuk keprihatinan dan kepedulian mereka dengan lingkungan mereka. Sudah menjadi panggilan jiwa mereka untuk”menjaga” lingkungan sekitar mereka dari tindakan kejahatan yang mungkin terjadi.

Film dokumenter ini mengambarkan secara menyeluruh tentang reallife superheroes. Bagaimana lingkungan kehidupan disekitar mereka. Apa yang disiapkan para reallife superheroes sebelum "menjalankan tugasnya", bagaimana mereka berinteraksi dengan masyarakat ketika beraksi, bagaimana hubungan mereka dengan orang tua mereka, lingkungan mereka, bahkan dengan aparat penegak hukum.

Ketidakpedulian terhadap lingkungan haruslah dihindari, orang-orang ini (Real Life SuperHeroes) berusaha memberikan inspirasi kepada masyarakat luas bahwa jiwa itu harus ditumbuhkan, sebuah pelayanan sosial tidak harus menunggu datang dari pemerintah, masyarakat umum bisa melakukannya dengan inisiatif pribadi, asalkan ada kemauan.

Kostum mereka mungkin hanya sebuah simbol untuk menarik perhatian, karena jika menarik perhatian, akan lebih mudah buat mereka untuk berkomunikasi dan menyampaikan apa yang mereka ingin sampaikan. Kesadaran pribadi untuk berbagi akan membuat hidup ini bermakna.

Real Life Superheroes mungkin memiliki tujuan yang mirip dengan sistem keamanan lingkungan (Siskamling) di Indonesia (menjaga keamanan lingkungan, berpatroli di jalanan malam, dsb). Mungkin ini yang membedakan antara negara barat dan Indonesia. Di Indonesia, masyarakat di ajak peduli dengan lingkungan sekitarnya dengan gerakan siskamling (atau mungkin juga kerja bakti), sedangkan di Amerika Serikat, semuanya menjadi tanggung jawab negara (polisi dan dinas sosial).

Jangan melihat mereka yang berkostum (real life superheroes)) sebagai seseorang yang aneh tetapi lihat mereka sebagai seseorang yang berusaha menginsiprasi lingkungan sekitar mereka untuk berubah  menuju sebuah lingkungan yang baik.

Selamat Menonton!!

11 Desember 2012

Ruby Sparks (2012)


“Cinta itu butuh sebuah proses, sehinga kau akan mendapatkan arti cinta sesungguhnya. Tanpa sebuah proses, kau hanya menemui cinta tanpa makna, tanpa rasa”


Ketika kau trauma soal berhubungan dengan wanita, apa yang akan kau lakukan? Ketika kau mempunyau masalah dalam bergaul apa yang akan kau lakukan? Ketika kau hanya mempunyai saudara lelakimu dan istrinya sebagai teman berbicaramu apa yang kau lakukan? Tentunya datang ke seoerang Psikiater untuk membantumu bukan?

Itulah yang dilakukan Calvin. Walaupun ia seorang penulis sukses dan terkenal, ternyata ia mempunyai masalah yang mendalam soal hubungan dengan manusia. Masalahnya ini belum selesai, tetapi datang masalah baru. Pihak penerbit menagih sebuah naskah baru, karena Calvin sudah begitu lama tidak menerbitkan buku baru.

Inspirasi itu akhirnya datang, Calvin mendapatkan sebuah ide brilian mengenai novel selanjutnya. Ia tak membuang-buang waktu. Idenya kali ini mengisahkan seorang perempuan bernawa Ruby, perempuan yang dicintai oleh seorang tokoh yang diberi nama sama seperti dirinya, Calvin. Mereka berdua dikisahkan sebagai seorang sepasang kekasih.

Kisah cinta yang tadinya hanya diatas kertas, ternyata terbawa ke alam nyata. Calvin merasa jatuh cinta dengan karakter fiksi buatanya. Ia begitu merasa aneh dengan kenyataan itu, tetapi hal itu bukan akhir dari keanehan yang terjadi dengan Calvin. Disatu hari, saat ia terbangun dari tidurnya, ia menemukan bahwa sosok Ruby hadir di rumahnya. Sosok Ruby yang tadinya hanya ada dipikirannya, ternyata hadir secara ajaib di kehidupan nyata.

Dari sinilah dimulai kisah kehidupan Calvin dan Sosok Ruby yang tiba-tiba secara ajaib dan misterius ada muncul dalam kehidupannya.
Calvin dan Ruby

Ruby Spark (2011) menawarkan sebuah cerita drama romantis yang ringan dan menyenangkan. Kalian akan di ajak mengunjungi beberapa bentuk “hubungan percintaan” dalam dimensi barat. Mungkin kalian bisa sampai kepada kesimpulan ini, atau mungkin tidak : “Sebuah Kebahagian yang sempurna, diawali dari sebuah cinta yang tulus”.

Film ini juga akan memperlihatkan apapun yang berlebihan itu bernilai negatif, walaupun yang berlebihan itu adalah sesuatu yang positif. Keseimbangan merupakan sesuatu yang mesti diraih dalam hal apapun.

Darimana kita bisa mendapatkan sebuah keseimbangan yang baik? Kita perlu memahami secara utuh sebuah hal maupun persoalan. Bagaimana kita bisa mendapatkan pemahaman seperti itu? Kita butuh ada dan terlibat dalam ‘sebuah proses’, dari pemahanan atas sebuah proses inilah, kita bisa membentuk sebuah keseimbangan.

Film ini sangat menyenangkan untuk ditonton, tetapi mungkin bagi kalian yang sudah memiliki pasangan dikhawatirkan bisa menimbulkan pertanyaan diantara kalian mengenai bentuk hubungan dan komunikasi diantara kalian berdua, apakah sudah tepat apa belum? Apakah harus diubah atau tetap dipertahankan?.

Selamat Menonton!!

10 Desember 2012

Wild Bill (2011)


“Menjadi seorang ayah itu berat, janganlah memutuskan untuk menjadi ayah jika tidak kuat dengan konsekuensinya”


Keluar dari penjara menjadi sesuatu hal yang membahagiakan, ia bisa kembali merasakan kebebasan tanpa adanya batasan. Itulah yang dipikirkan pertama kali oleh Bill, seorang narapidana yang mendapatkan pembebasan bersyarat, ia berharap bisa kembali berkumpul bersama keluarganya, kembali berbahagia.

Tetapi kenyataan berbeda dengan banyangannya, ia mendapati istrinya telah pergi meninggalkan dua anaknya, Dean dan Jim. Untuk memenuhi kebutuhan hidup Dean terpaksa bekerja sebagai tukang bangunan, padahal dia masih dibawah umur.

Masuk kembali kedalam kehidupan normal ternyata sangat sulit bagi Bill. Ia harus menghadapi mantan koleganya yang menyebabkan ia masuk penjara, ia dipaksa untuk kembali ke kehidupan hitamnya. Dean, sebagai anak tertuanya juga menolak kehadirannya karena merasa karena dirinyalah, keluarga ini menjadi berantakan dan hancur.

Wild Bill (2011) mengambil latar belakang kehidupan di Inggris, kita akan disajikan interaksi kehidupan kaum pinggiran di Kota London. Kota besar tidak selamanya memiliki sisi indah, tetapi juga ada sisi gelap yang mereka punyai. Kita akan diajak berjalan-jalan mengenali salah satu sisi gelap di Kota London, perdagangan narkoba yang memanfaatkan anak kecil, kisah pelacuran, geng jalanan, dsb.

Ayah Akan selalu menjaga Anaknya
apapun yang mereka lakukan
Film ini memiliki pesan yang kuat mengenai bagaimana ayah yang sebenarnya. Bill merasa sangat bersalah atas apa yang terjadi dengan keluarganya, ia berusaha memperbaikinya. Perlahan-lahan, kedua anaknya kembali mendapatkan rasa kepercayaan mereka kepada ayahnya.

Seorang ayah yang baik akan berusaha menyelesaikan masalah yang diperbuatan anaknya, karena ayah adalah seorang pemimpin dan pelindung. Itulah yang dilakukan oleh Bill, ia harus membereskan masalah yang menimpa Jim, karena ia ikut berdagang obat terlarang dijalanan. Bill tetap melakukannya walaupun ia beresiko untuk mati terbunuh dalam pertarungan dengan geng obat bius.

Belakangan ini, sering kali kita melihat seorang anak merasa tidak dekat dengan ayahnya. Bagi teman-teman yang merasa seperti itu, cobalah terbuka lebih sedikit kepada ayahnya. Mungkin ayahmu sudah berusaha untuk berkomunikasi kepada dirimu, tetapi karena kalian saja yang tidak membuka diri, kau menjadi merasa ayahmu tak melakukan apa-apa