30 Juni 2012

We Need to Talk Abou Kevin (2011)

Poster Film

Mengasuh anak merupakan salah satu tanggung jawab orang tua yang paling berat. Jangan sampai cara kita mengasuh anak tidak tepat sehingga menimbulkan dampak yang buruk kepada anak, apalagi jika sampai membuat anak melakukan tindakan-tindakan yang diluar perkiraan, sebagai orang tua, kita pasti akan menjadi pihak yang pertama disalahkan karena hal itu.

Eva Khatchadourian hidup sendirian dirumahnya yang kecil. Ia sosok wanita yang tertekan, menanggu sebuah beban besar di kehidupannya. Hari itu, Eva memutuskan untuk mencari sebuah pekerjaan, dan beruntung, ia mendapat pekerjaan di sebuah agen perjalanan wisata, sebuah pekerjaan yang dekat pekerjaannya dulu sebagai penulis perjalanan wisata. Pekerjaan yang ditekuninya sebelum "peristiwa" itu terjadi.

"Peristiwa" itu telah membuat kehidupan Eva berubah, ia menjadi seorang yang ketakutan untuk bertemu dengan orang-orang. Pernah suatu hari, seorang wanita datang kepadanya dan menampar dirinya, Eva hanya bisa berdiam diri dan tidak melawan.

Eva tidak akan pernah menyangka "peristiwa" itu akan menimpa dirinya dan keluarganya. Ia harus kehilangan Suaminya, Flanklin serta anak keduannya Celia karena dibunuh oleh anak pertamanya yaitu Kevin. Peristiwa itu begitu memilukan untuk Eva. Bahkan yang lebih parah lagi Kevin tidak hanya membunuh ayah dan adik perempuannya, Kevin juga membunuh teman-teman di sekolahnya. Peristiwa ini bukanlah sebuah peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba. Tindakan Kevin untuk membunuh anggota keluarga dan teman-teman sekolahnya merupakan puncak dari sebuah kekesalan yang dipendam secara puluhan tahun.

Kevin merupakan anak perta dari pasangan Flanklin dan Eva. Ketika melahirkan Kevin, Eva sepertinya terkena serangan Distress Postpartum (Stress pasca melahirkan), stress inilah yang membuat Eva kurang baik dalam hal mengasuh Kevin, ada beberapa tindakan Eva yang kurang bijak ketika merawat kevin ketika masih bayi.

Ketika menginjak usia balita, Kevin lebih banyak diam dan tidak merespon semua tindakan Eva. Hal itulah yang membuat Eva mengasuh Kevin dalam keadaan penuh emosi dan ketidaksabaran, akibatnya Kevin tumbuh besar dengan kebencian dan dendam akan keberadaan Eva.

Eva dan Kevin
Kevin kecil menunjukan tanda-tanda sebagai seorang psikopat. Ia menjadi seorang anak yang bermuka dua, ia terlihat baik di depan orang lain, tetapi menjadi pribadi yang jahat di depan ibunya. Kevin kecil sudah pintar berbohong, bahasanya yang begitu kasar kepada ibunya serta begitu "menguasai" keadaan rumah dengan segala tindakannya.

Kelahiran Celia membuat kevin cemburu, apalagi kondisi Eva ketika melahirkan Celia lebih stabil. Eva terlihat lebih ikhlas dalam menerima kelahiran Celia dibandingkan dengan Kevin.

Masa remaja Kevin juga tidak berbeda jauh ketika ia masih kanak-kanak, Ia semakin rapi dalam menyimpan segala tindakan jahatannya, ia juga selalu menggangu adiknya dengan berbagai cara yang ia bisa.

Puncak kekesalan Kevin terjadi ketika secara langsung Ibunya mencuriaginya menggunakan obat-obatan terlarang karena sikap Kevin yang begitu tertutup dan misterius. Kevin akhirnya "membalas dendam" atas semuanya tepat di ulang tahunnya yang ke-16.

Eva sebenarnya merasa sangat bertanggung jawab terhadap Kevin. Ia merasa ikut andil dalam tindakan Kevin membunuh teman-temannya dan keluarganya. Eva masih menjaga kamar Kevin seperti sedia kala, begitu juga berbagai macam barang kepunyaan kevin. Hal ini merupakan bentuk upaya Eva untuk membayar perhatiannya yang kurang tulus kepada Kevin waktu kecil.

'We Need to Talk About Kevin' sebenarnya adalah sebuah film dengan ide yang cukup sederhana tetapi mempunyai kekuatan dalam cara bagaimana film ini diceritakan. Film ini memililiki beberapa plot waktu yaitu (1) Masa Eva dan Franklin Bertemu (2) Masa Kehamilan (3) Masa mengurus bayi kevin (4) Masa mengurus kevin yang balita (5) Kehadiran remaja Kevin dan kehadiran Celia (6) Masa setelah "peristiwa" itu terjadi.

Kondisi Eva Pasca "Peristwa". Ia begitu ketakutan
jika bertemu dengan orang lain
Ke enam pembabakan waktu itu disusun secara tidak berurutan, dengan penghubung antara waktu yang cerdas. Jika kalian menyaksikan ceritanya, tidak akan terasa lompatan-lompatan waktu yang dilalui oleh Eva. 

Beberapa hal yang unik dari cerita film ini adalah penggunaan warna merah yang begitu dominan disetiap adegan. kalian pasti akan sering melihat warna merah di film ini, mungkin hal ini dimaksudkan untuk menimbulkan kesan "berdarah" dalam film ini. Selain itu, pemilihan lagu latar yang begitu ceria, hal itu sangat bertolak belakang dengan isi film ini yang begitu kelam.

Film ini mendapatkan 16 penghargaan serta 29 nominasi penghargaan. Penghargaan yang diraihnya diantaranya adalah British Independent Film Award, European Film Award, London Film Award, selain itu film ini juga masuk sebagai Official Selection Festival Film Cannes. Selamat Menonton!!

28 Juni 2012

Detachment (2011)

"Whatever is on my mind, I say it as I feel it, I'm truthful to myself; I'm young and I'm old, I've been bought and I've been sold, so many times. I am hard-faced, I am gone. I am just like you" |Henry Barthes|


Memilih menjalani profesi sebagai guru sekolah merupakan kehidupan penuh tantangan, apalagi ketika profesi itu harus dijalani sebagai seorang guru tidak tetap. Itulah jalan hidup yang dipilih oleh Henry Barthes, ia memilih untuk tetap menjadi guru pengganti dan selalu berpindah-pindah sekolah. 

Henry Barthes hadir sebagai sosok yang percaya bahwa dirinya bisa membawa perubahan dimanapun ia berada. Henry orang yang optimis,  santun serta sabar, ia juga sosok yang terus terang selain itu ia dengan mudah mendapatkan kepercayaan dari orang lain karena kebaikan hatinya.

Sekolah baru tempat Henry mengajak mengalami banyak masalah. Kepala sekolahnya didesak untuk meletakan jabatan, murid sekolah yang tidak menghormati keberadaan guru di kelasnnya, guru-guru yang banyak mengundurkan diri karena tidak kuat dengan perilaku muridnnya.

Kehidupan Henry Barthes di sekolah barunya mempertemukannya dengan tiga orang wanita. Wanita pertama adalah seorang murid bernama Meredith. Murid ini selalu menjadi bahan olokan teman-teman sekolahnya karena berat badannya. Selain itu orang tua Meredith juga kurang menghargainya sebagai seorang anak, ia selalu diminta untuk mengurangi berat badannya serta sedikit sekali mengakui kemampuan Meredith di bidang fotographi.

Wanita kedua bertemu Henry secara tidak sengaja sewaktu dia pulang dengan kendaraan umum. Ia adalah seorang pelacur jalanan dibawah umur bernama Erica. Karena Henry merasa iba dengannya, ia memutuskan untuk menolong Erica agar mempunyai kehidupan yang lebih baik. Wanita ketiga adalah sesama guru, ia bernama Ms. Madison. Sempat terjalin hubunganya yang akrab antara Madison dengan Henry walaupun hubungan itu berakhir dengan kurang baik

Terdapat wanita ke empat yang selalu ada di sosok Henry, wanita keempat itu adalah ibunya. Henry selalu dibayang-bayangi sosok ibunya, mungkin karena Ibunya meninggal ketika Henry baru berusia tujuh tahun, sehingga ia selalu terkenang masa-masa bersama ibunya. Setelah Ibunya meninggal, ia tinggal dengan kakeknya yang sekarang sedang menghabiskan masa tuanya di rumah sakit.

Erica dan Henry
Film ini merupakan film bergenre drama, alur ceritanya lambat, selain itu cerita ini banyak plot-plot tambahan diluar cerita utamanya, tetapi pengemasan sangat apik sehingga tidak menggangu cerita utama. Film ini sebenarnya mempunyai inti cerita dikehidupan Henry, Ibunya serta kakeknya.


Henry merupakan pribadi yang sangat mengayomi dan penuh rasa kasih sayang. Tetapi, dari mana datangnya kebaikan hati Henry ini?, rasa itu datang dari pengalaman masa kecilnya, ia tidak mendapatkan rasa kasih sayang yang cukup dari ibunya karena ibunya meninggal saat usianya 7 tahun. Absennya rasa kasih sayang itu membuat dirinya tidak ingin ada orang lain (anak-anak) yang mengalami hal yang sama seperti dirinya. Selain itu, fakta yang ada menyatakan bahwa kematian Ibu Henry karena tindakan kurang terpuji dari kakeknya.


Kisah Henry dan Meredith mengangkat persoalan soal pentingnya penghargaan untuk dalam sebuah proses belajar. Meredith dikisahkan sebagai siswa yang kurang dihargai, ia selalu ditekan oleh teman-temannya serta keluarganya sendiri. Perilaku kurang  menghargai itu akhirnya mendorong Meredith untuk melakukan tindakan bodoh agar keluar dari tekanan tersebut.


Pertemuan Henry dengan Erica membawa kita kepada bentuk hubungan antara seorang bapak dan anak perempuannya. Herny membalas kekecewaan  perilaku kakeknya terhadap Ibunya, dengan jalan merarwat anak perempuan yang ia temukan dijalan. Erica pada awalnya memikirkan ini hubungan antara seorang wanita dengan pria, tetapi ia akhirnya menyadari bahwa hubungan mereka adalah bentuk hubungan antara seorang ayah dengan anak perempuannya.


Lucy Liu (Dr Doris Parker), Adrien Brody (Henry Barthes),
Sami Gayle (Erica), dan Betty Kaye (Meredith)
Secara menyeluruh film ini sangat menyenangkan untuk ditonton, karena menawarkan sebuah cerita yang penuh dengan inspirasi dan pelajaran hidup. Sikap Henry yang terlihat tenang dan sabar tetapi tegas, bisa menjadi sebuah rujukan untuk bersikap ditengah komunitas pemuda-pemudi yang memberontak. Film ini juga bisa menjadi tontonan wajib buat para calon bapak, jika ingin menjadi seorang pengasuh yang tenang, bijak dan tepat, sehingga anak akan mendapatkan pembelajaran tentang bagaimana hidup yang tepat. 


Film ini mendapatkan beberapa penghargaan, yaitu Deauville Film Festival, Sao Paulo International Film Festival, Tokyo International Film FEstival, Valenciennes International Festival of Action and Adventure Film, Woodstock Film Festival. Beberapa penghargaan ini menunjukan bahwa film ini merupakan film berkualitas. Selamat menonton!!

23 Juni 2012

Coriolanus (2011)

He that will give good words to thee will flatter beneath abhorring. What would you have, you curs that like nor peace nor war? The one affrights you, the other makes you proud. He that trusts to you where he should find you lions, finds you hares; where foxes, geese. Who deserves greatness, deserves your hate (Caius Martius Coriolanus).


Mungkin bagi kalian petikan di atas asing buat kalian. Tentu saja, karena Caius Martius merupakan tokoh yang berasal dari drama berjudul "Coriolanus" karya William Shakespeare. Di tahun 2011, kisah itu diangkat ke dalam sebuah film yang berjudul Coriolanus. Film ini memberikan setuhan modern untuk sebuah drama klasik yang ditulis di tahun 1600an awal.

Film ini dibuka dengan adegan demonstrasi dan peperangan yang melanda Kota Roma, penduduk Roma kelaparan, selain itu Kota Roma sedang diserang oleh musuh yaitu orang-orang Valscian. Valscian dipimpin oleh seorang bernama Tullus Aufidius, beruntung Roma memiliki seorang pejuang yang menjadi tumpuan untuk bertahan dari serangan Aufidius, yaitu Caius Martius.

Caius Martius merupakan sosok yang menjadi inspirasi bagi penduduk Kota Roma, ia dielu-elukan sebagai pahlawan Kota Roma, ditambah kali ini dia berhasil kembali mengusir Tullus Aufidius. Di medan perang, Martius menunjukan bahwa ia memang seseorang yang berani, tidak takut apapun dan sangat berjiwa patriotis, ia menjadi inspirator dan motivator untuk kemenangan pasukan Roma. 

Peperangan itu menjadi yang terakhir buat Caius Martius. selain itu, ia mendapatkan gelar dari masyarakat Roma, yaitu "Coriolanus", selain itu ia juga diangkat menjadi ketua dewan pemerintahan di kota Roma. Hadiah tersebut ternyata membuat beberapa politikus cemburu, dan berusaha menfitnah Caius Martius sebagai seseorang yang kejam, tidak ramah dan keras.

Fitnah tersebut ternyata berhasil, Caius Martius menjadi sosok yang dibenci oleh penduduk kota Roma, bahkan akhirnya ia di usir dari kota tersebut. Seorang pahlawan yang selalu dipuja akhirnya menjadi seorang yang terbuang karena fitnah yang disebarkan oleh politikus Kota Roma.

Sakit hati, kecewa dan merasa tidak dihargai. Caius Martius akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan musuh abadi Kota Roma, Tullus Aufidius. Caius Martius berhasil membalas dendam dengan menyerang Kota Roma, kota yang dulunya memuja dia sebagai pahlawan!

Semangat dari film ini adalah kepahlawanan dan patriotisme. Hal itu terlihat Sosok Caius Martius digambarkan sebagai sosok yang meraih kebanggaan dari bekas-bekas luka yang didapatkannya dari peperangan.  Sosok ibunda Caius Martius, Volumnia menyatakan bahwa dirinya lebih bangga jika anaknya mati di medan perang dibandingkan hanya berpangku tangan. Kehidupan politik di masa romawipun sangat terlihat di film ini. Fitnah terhadap Caius Matiuspun hanya berdasarkan pidato-pidato politik oleh para politikus Roma di depan mimbar bebas di kota Roma. 


Kepahlawanan inilah yang mungkin dibutuhkan Indonesia saat ini, bagaimana sekarang ini kita membutuhkan tokoh-tokoh yang mau berjuang dan mempunyai kebanggaan tinggi atas negeri sendiri, yaitu Indonesia. Tokoh-tokoh yang mempunyai jiwa seperti itu pasti akan mengorbankan seluruh jiwa dan raganya untuk kemajuan bangsa.


Caius Martius dan Tullus Aufidius
Dua tokoh utamanya mungkin sudah sering kalian lihat, Tullus Aufidius diperankan oleh Gerard Butler, (Film 300 - King Leonidas, P.S. I Love You - Gerry, Beowulf and Grendel - Beowulf), sedangkan tokoh Caius Martius diperankan oleh Ralph Fiennes (Harry Potter - Lord Voldemort, Clash of The Titans - Hades).  Mereka memerankan peran dengan baik dan berhasil.

Jika berbicara soal penghargaan, Film ini, sudah memenangi beberapa penghargaan. Diantaranya adalah Austin Film Critics Associantion, British Independent Film Awards, Central Ohio Film Critics Association, Hollywood Film Festival, Los Angeles Film Critics Associations Awards, Palm Springs Internatonal Film Festival,  San Diego Film Critics Society Awards, San Francisco Film Critics Circle.

Film ini membawa sebuah pengalaman baru karena film ini membawa unsur-unsur teater ke dalam media film. Untuk masalah bahasa film ini adalah penggunaan  bahasa yang puitis. Mungkin kalian akan lebih sering mendengar panggilan engkau (Thee | Thou | Thy | Ye) dibandingkan dengan kamu (you).Selain itu kalian  akan masih merasakan "unsur teater" yang kental di film ini terutama dalam percakapan antara tokoh dalam film. Film ini cukup menyenangkan untuk ditonton, tetapi memang membutuhkan konsentrasi penuh untuk menontonnya. Selamat Menonton.

21 Juni 2012

The Woman in the Fifth (2011)

"Pikiran merupakan musuh yang paling jahat, pikiran bisa membuat sebuah keadaan menjadi lebih buruk dibandingkan dengan kenyataannya!"

Tom adalah seorang profesor dan penulis buku, ia memutuskan untuk terbang dari Amerika Serikat menuju Prancis supaya dapat menemui anak perempuannya. Mereka terpaksa berpisah karena perintah pengadilan, perceraian membuat Tom harus kehilangan hak asuh anaknya.

Kedatangan Tom ke Paris, Prancis sepertinya bukan keputusan yang tepat. Ia dikejar-kejar polisi  karena melanggar perintah pengadilan dan iapun kehilangan seluruh barang bawaannya karena tertidur di dalam Bus. 

Beruntung karena kebaikan hati seorang pengusaha kafe bernama Sezer, ia bisa mendapatkan tempat tinggal serta pekerjaan sementara sehingga ia bisa memiliki uang untuk hidup. Kehidupan Tom berubah setelah ia bertemu dengan seorang janda bernama Margit di acara "Temu Sastra'. Tom dan Margit menjalin sebuah hubungan romantis, margit menjadi tempat Tom untuk bercerita soal seluruh masalahnya.

Kisah cinta Tom ternyata tidak hanya terjalin dengan Margit, istri Sezer bernama Natahlie menaruh hati kepadanya. Ia tertarik dengan kepribadian Tom sebagai seorang penulis. Hubungan Natahlie dan Tompun terjalin, dan hal inilah yang menyebabkan Tom terlibat masalah dan di penjara.

Film ini membawa sebuah kejutan serta ketidakjelasan. Pada awalnya cerita ini disajikan sebagai film drama soal "perselingkuhan biasa", tetapi ternyata sosok Tom merupakan  sosok yang mengalami "sakit mental". Penyakit mental inilah yang membuat Tom tidak bisa membedakan yang mana yang dunia nyata dan khayalannya.

Film ini mengambil latar belakang kota Paris, Prancis. Tetapi pengambarannya hanya bisa kita lihat dari berdiri tegaknya Menara Effiel, sisanya kita hanya mendapatkan gambar dari tempat tinggal Tom, ruang kerja Tom serta apartemen tempat Margit tinggal.

Margit dan Tom
Secara tidak langsung, Film ini mengambarkan bahwa kota Paris memiliki bagian sub-urban yang dikuasai oleh para imigran-imigran. Hal itu digambarkan dengan karakter Sazer yang merupakan keturuan arab, tetapi kawasan Sub-urban di Paris bukannya tanpa belas kasih, Sazer dengan sukarela membantu Tom yang kerampokan.

Cerita soal seks di film ini mengambarkan sebuah kebebasan. Seorang wanita yang sudah memiliki suami, bisa dengan mudah (tanpa rasa bersalah) menggoda seorang pria asing, yang baru datang di kehidupannya. Pesan yang bisa ditangkap adalah "Ketertarikan terhadap seseorang, akan selalu dieskpersikan dengan seks", jika seseorang tertarik, tidak menjadi masalah mereka berhubungan seks, karena hal itu menjadi sebuah bukti ketertarikannya.

Berbicara soal hak asuh anak, kita patut mencermati percakapan yang dilakukan Tom dengan anak perempuannya. Mantan Istri Tom, mengatakan bahwa Tom dipenjara, tetapi sesungguhnya Tom ada dirumah sakit. Pernyataan istri Tom sepertinya dimaksudkan agar anak Tom menjadi membenci Tom, karena Tom adalah penjahat, sehingga Tom bisa ada di penjara.

Kebohongan-kebohongan inilah yang biasanya dilakukan oleh para orang tua yang berebut hak asuh anak. Mereka berusaha membuat anaknya membenci yang lain, dengan cara memberitahukan hal-hal bohong mengenai mereka. Sebaiknya hal itu dihindari karena akan menimbulkan dampak yang buruk untuk anak.

The Woman in Fifth sebagai sebuah film agak berat untuk ditonton, film ini bukan merupakan film yang 'sekedar untuk bersenang-senang', film ini harus ditonton dengan konsentrasi penuh.